Senin, 18 Juni 2012

Kesenian Kentrung

KESENIAN KENTRUNG YANG TERANCAM PUNAH

      Di sebuah desa kecil di tengah-tengah kota Trenggalek, tepatnya di Desa Bendosari Kelurahan Surodakan Kabupaten Trenggalek terdapat sebuah kesenian jawa yang masih bertahan sampai sekarang dan hampir punah tertelan perkembangan zaman. Kesenian ini yaitu "Kentrung Gaya Baru" garapan seorang seniman dari Trenggalek. Kentrung adalah sebuah kesenian dari jawa yang terdiri instrumen perkusi yang terdiri dari 7 jenis alat perkusi yang terdiri dari, 4 ketipung kecil, 1 gendang, dan 2 jidor yang terdiri dari bedug kecil dan terbang.
      Kentrung pada masa dahulu telah ada sejak kira-kira tahun 60-an, pendiri kentrung di kota Trenggalek yang masih hidup pada masa sekarang adalah seorang petani sederhana dari Desa Nglebo Udan Kelurahan Parakan Kecamatan Kota Trenggalek, beliau adalah seorang yang masih hidup samapai sekarang, sebagian dari personil yang lain telah lama wafat. Beliau hanya dapat mengingat sebagian dari masa-masa mudanya dulu bersama grup Kentrungnya bersama personil personilnya. Kentrung yang ada sekarang adalah Kentrung yang telah mengalami perubahan dari segi musik garapan, maupun lagu-lagu yang dimainkannya. Ujarnya ”dahulu kentrung dimainkan setiap hari-hari besar jawa, acara hajatan warga, maupun hari besar keagamaan, tetapi yang ada sekarang tak ada sekalipun masyarakat mengingat kesenian ini, bahkan untuk sekedar mengundangnya main pada hajatannya”. Anak-anak muda sekarang lebih mengenal kesenian modern seperti Hadrah dengan kreasi baru, Band, dan sebagainya.
      Kentrung Gaya Baru pada masa sekarang ini adalah garapan dengan gaya modern mengikuti perkembangan zaman. Garapan permainan Kentrung Gaya Baru ini adalah lagu-lagu jawa, seperti halnya macapat, qasidah jawa, maupun geguritan jawa, bahkan tak jarang dari masyarakat sekitar mendatangkan kentrung dengan meminta lagu-lagu campursari modern seperti yang telah ada sekarang dengan garapan asli kentrung. Kadang  juga digunakan sebagai ruwat sukerta (tolak bala') bagi orang yang pernah mempunyai nazar. Dari ruwat sukerta yang dijalankan, biasanya memainkan sebuah cerita masyarakat yang tersebar ditanah jawa, seperti contohnya, Joko Tarub, Ande-Ande lumut, bahkan bercerita tentang babad Kediri yaitu seperti cerita Panji Asmarabangun. 2 orang wirasuara  salah satunya bertindak sebagai dalang “Wayang Gemblung” ( bercerita Wayang seperti halnya mencerita sebuah dongeng), biasanya memainkan tentang babad tanah jawa, babad daerah sekitar, serta cerita wayang kulit sempalan (potongan).
        Kesenian ini telah melang-lang sampai kemana-mana baik di daerang Trenggalek sekitar maupun luar Trenggalek. Kesenian ini merupakan ajang silaturahmi bagi personilnya, pada tiap hari-hari besar, acara hajatan keluarga personilnya, maupun pada latihan tiap bulan maupun tiap tahunnya. Grup personil ini beranggotakan 8 orang dari berbagai latar belakang, mulai dari pemain jaranan, penabuh gamelan, pegawai negri sipil, maupun seorang wiraswasta sendiri. Seorang pemimpin Kesenian ini berharap, dengan adanya kesenian Kentrung Gaya Baru ini, semoga masyarakat luas, dapat mengerti dan bahkan melestarikannya sebagai sebuah warisan dari nenek moyang kita yang telah lama memeperjuangkan berdirinya kesenian ini ditanah jawa Khususnya.


1 komentar:

  1. ini adalah salah satu kesenian jawa yang hampir terancam punah.., semoga saja dengan adanya blog ini bisa menambah wawasan dan keminatan pada kesenian jawa khususnya pada kesenian kentrung

    BalasHapus