Di sebuah desa kecil di tengah-tengah kota
Trenggalek, tepatnya di Desa Bendosari Kelurahan Surodakan Kabupaten Trenggalek
terdapat sebuah kesenian jawa yang masih bertahan sampai sekarang dan hampir
punah tertelan perkembangan zaman. Kesenian ini yaitu "Kentrung Gaya
Baru" garapan seorang seniman dari Trenggalek. Kentrung adalah sebuah
kesenian dari jawa yang terdiri instrumen perkusi yang terdiri dari 7 jenis
alat perkusi yang terdiri dari, 4 ketipung kecil, 1 gendang, dan 2 jidor yang
terdiri dari bedug kecil dan terbang.
Kentrung pada masa dahulu telah ada sejak
kira-kira tahun 60-an, pendiri kentrung di kota Trenggalek yang masih hidup
pada masa sekarang adalah seorang petani sederhana dari Desa Nglebo Udan
Kelurahan Parakan Kecamatan Kota Trenggalek, beliau adalah seorang yang masih
hidup samapai sekarang, sebagian dari personil yang lain telah lama wafat. Beliau
hanya dapat mengingat sebagian dari masa-masa mudanya dulu bersama grup
Kentrungnya bersama personil personilnya. Kentrung yang ada sekarang adalah
Kentrung yang telah mengalami perubahan dari segi musik garapan, maupun
lagu-lagu yang dimainkannya. Ujarnya ”dahulu kentrung dimainkan setiap
hari-hari besar jawa, acara hajatan warga, maupun hari besar keagamaan, tetapi
yang ada sekarang tak ada sekalipun masyarakat mengingat kesenian ini, bahkan untuk
sekedar mengundangnya main pada hajatannya”. Anak-anak muda sekarang lebih
mengenal kesenian modern seperti Hadrah dengan kreasi baru, Band, dan
sebagainya.
Kentrung Gaya Baru pada masa sekarang ini adalah
garapan dengan gaya modern mengikuti perkembangan zaman. Garapan permainan
Kentrung Gaya Baru ini adalah lagu-lagu jawa, seperti halnya macapat, qasidah
jawa, maupun geguritan jawa, bahkan tak jarang dari masyarakat sekitar
mendatangkan kentrung dengan meminta lagu-lagu campursari modern seperti yang
telah ada sekarang dengan garapan asli kentrung. Kadang juga digunakan sebagai ruwat sukerta (tolak
bala') bagi orang yang pernah mempunyai nazar. Dari ruwat sukerta yang
dijalankan, biasanya memainkan sebuah cerita masyarakat yang tersebar ditanah
jawa, seperti contohnya, Joko Tarub, Ande-Ande lumut, bahkan bercerita tentang
babad Kediri yaitu seperti cerita Panji Asmarabangun. 2 orang wirasuara salah satunya bertindak sebagai dalang “Wayang
Gemblung” ( bercerita Wayang seperti halnya mencerita sebuah dongeng), biasanya
memainkan tentang babad tanah jawa, babad daerah sekitar, serta cerita wayang
kulit sempalan (potongan).
Kesenian
ini telah melang-lang sampai kemana-mana baik di daerang Trenggalek sekitar maupun
luar Trenggalek. Kesenian ini merupakan ajang silaturahmi bagi personilnya,
pada tiap hari-hari besar, acara hajatan keluarga personilnya, maupun pada
latihan tiap bulan maupun tiap tahunnya. Grup personil ini beranggotakan 8
orang dari berbagai latar belakang, mulai dari pemain jaranan, penabuh gamelan,
pegawai negri sipil, maupun seorang wiraswasta sendiri. Seorang pemimpin Kesenian
ini berharap, dengan adanya kesenian Kentrung Gaya Baru ini, semoga masyarakat
luas, dapat mengerti dan bahkan melestarikannya sebagai sebuah warisan dari
nenek moyang kita yang telah lama memeperjuangkan berdirinya kesenian ini ditanah
jawa Khususnya.

ini adalah salah satu kesenian jawa yang hampir terancam punah.., semoga saja dengan adanya blog ini bisa menambah wawasan dan keminatan pada kesenian jawa khususnya pada kesenian kentrung
BalasHapus